Jakarta diantara 11 kota yang berkemungkinan kehabisan air bersih
Bersama kota - kota dunia, Jakarta terancam krisis air bersih
70 % permukaan bumi adalah air, tetapi air yang dapat dikonsumsi tidaklah banyak, hanya 3 %. Lebih dari 1 Milyar penduduk bumi tidak atau kurang memiliki akses terhadap air bersih dan 2,7 Milyar orang lainnya mengalami kekurangan setidaknya satu bulan dalam satu tahun.
Menurut proyeksi dari penelitian PBB, kebutuhan air bersih pada tahun 2030 akan melebihi ketersediaan hingga 40%, hal ini disebabkan oleh laju pertumbuhan populasi, kecerobohan manusia dan tentunya perubahan iklim.
Kekeringan yang melanda Cape Town di Afrika Selatan adalah salah satu contoh masalah yang sebelumnya telah diperingatkan oleh para ahli.
Dilansir dari bbc.com, berikut adalah daftar 11 kota di dunia yang memiliki kemungkinan kehabisan air bersih di masa depan.
1. São Paulo
Kota yang dikenal sebagai pusat ekonomi Brasil ini termasuk dalam 10 kota terpadat dunia. Seperti Cape Town, São Paulo juga pernah mengalami krisis kekurangan air pada waduk penyimpanan air bersihnya.
Saat itu 21,7 Juta penduduk São Paulo hanya memiliki persedian air kurang dari 20 hari, hingga pihak kepolisian sampai harus mengawal truk – truk air agar tidak dijarah.
Menurut perwakilan PBB di São Paulo, kekurangan air ini disebabkan oleh kurangnya perencanaan dan investasi untuk air bersih. Pada tahun 2016 krisis air bersih tersebut dianggap telah usai, tetapi pada bulan Januari 2017 persediaan air kota tersebut berada 15 % dibawah perkiraan.
2. Bangalore
Kota yang berada di bagian selatan India ini kini sedang mengalami perkembangan properti yang pesat, karena Bangalore kini juga sedang menjadi kota teknologi yang maju di India. Walaupun begitu pemerintahnya masih kurang dalam pengelolaan air dan limbah.
Sistem pipa air kota ini pun membutuhkan perbaruan; laporan dari pemerintah India sendiri menunjukkan Bangalore kehilangan separuh dari air minum mereka karena kebocoran.
Seperti China, India juga berjuang menghadapi polusi air 85 % air di danau – danau di Kota Bangalore tidak cocok untuk dikonsumsi sebagai air minum maupun mandi.
3. Beijing
Bank Dunia mengkalsifikasikan kekurangan air di sebuah daerah dengan perhitungan ketika satu orang hanya menerima 1000 kubik meter air per tahun.
Pada tahun 2014, penduduk Beijing hanya memiliki akses ke 145 kubik meter air. China adalah rumah bagi 20% penduduk dunia, tetapi hanya 7% yang memiliki akses ke air bersih. Menurut penelitian Columbia University, memperkirakan persediaan air China turun 13% selama kurun waktu dari tahun 2000 hingga 2009.
Selain kekurangan air, China juga menghadapi masalah polusi air. Data dari Pemerintah China di tahun 2015 menunjukkan 40% dari air permukaan Beijing telah terkena polusi, dan tidak dapat dingunakan untuk keperluan agrikultur maupun industri.
Pemerintah China telah melakukan berbagai cara menghadapi hal ini, seperti memberikan penyuluhan kepada rakyatnya dan menaikkan harga air bagi pengguna air di industri berat.
4. Cairo
Sungai Nil yang dahulu berpengaruh dalam perkembangan salah satu peradaban terbesar di dunia, kini di jaman modern mengalami masalah air bersih.
Sungai Nil adalah sumber air bagi 97% Negara Mesir, tetapi pembuangan limbah yang belum diolah juga terus mengotorinya.
Data dari World Health Organization menunjukkan Mesir berada di tingkat tertinggi di antara negara dengan pemasukan menengah kebawah dalam hal jumlah kematian akibat polusi air. PBB memperkirakan Kairo akan mengalami krisis air bersih pada tahun 2025.
5. Jakarta
Seperti kota – kota yang berada di pesisir kebanyakan, Ibukota Indonesia ini terancam oleh terus naiknya permukaan laut.
Masalah ini diperburuk dengan sumur – sumur ilegal yang terus digali, hal ini terjadi karena hanya setengah dari 10 Juta penduduk Jakarta yang memiliki akses ke pipa air bersih. Penggalian sumur – sumur ilegal ini terus menghabiskan akuifer atau lapisan tanah mengandung air hingga hampir habis.
Menurut Bank Dunia, karena hal tersebut sekitar 40 % dari Kota Jakarta kini berada di bawah permukaan laut.
Akuifer tidak dapat terisi lagi walaupun hujan deras melanda Jakarta, karena pembangunan beton dan aspal yang tidak menyerap air hujan.
6. Moscow
Seperempat persediaan air bersih dunia berada di Russia, tetapi negara tersebut dihantui oleh polusi karena industri peninggalan masa Soviet.
70% dari Moscow tergantung kepada ketersediaan air permukaan, pihak pemerintah mengakui bahwa 35% hingga 60% air minum di Russia tidak memenuhi standar kebersihan.
7. Istanbul
Menurut data dari Pemerintah Turki, negara tersebut secara teknis berada dalam krisis air, sejak persediaan perkapita turun dibawah 1,700 Kubik meter di Tahun 2016.
Para ahli di Turki telah mengingatkan bahwa keadaan ini akan memburuk menjadi kekurangan air di tahun 2030.
Pada beberapa tahun terakhir, kota padat penduduk seperti Istanbul dengan 14 Juta penduduknya mulau mengalami kekurangan air pada musim panas.
8. Mexico City
Kekurangan air bukanlah hal baru bagi 21 Juta penduduk Ibukota Mexico ini, sebagian dari penduduknya berada jauh dari akses air dan 20% lainnya hanya memiliki persediaan air setengah hari per harinya.
Mexico City mengimpor 40% air mereka dari sumber – sumber air yang jauh, tetapi kurang dalam melakukan pengolahan air limbah. Kebocoran sistem pipa air bersih juga menjadi salah satu penyebab kota tersebut kekurangan air.
9. London
Walaupun London memiliki curah hujan per tahun yang lumayan, kota tersebut mengambil air bersih dari sungai – sungai disekitarnya seperti Thames dan Lea.
Menurut pemerintah Greater London, konsumsi air bersih kota ini terus naik mendekati batas kapasitas, diperkirakan mengalami masalah air pada tahun 2025, dan kekurangan serius pada tahun 2040
10. Tokyo
Ibukota Jepang ini memiliki angka curah hujan yang sama dengan Seattle di pantai barat AS, yang dikenal sebagai kota hujan. Tetapi di Tokyo, hujan hanya terkonsentrais selama 4 bulan dalam setahun.
Air harus dikumpulkan, dan kurangnya hujan di musim hujan akan mengakibatkan kekeringan. Setidaknya 750 bangunan publik di Tokyo memiliki penampungan air hujan. Tokyo berpenduduk 30 Juta jiwa, dan sistem air mereka 70 % tergantung pada air permukaan seperti dari sungai, danau dan salju yang leleh.
11. Miami
Negara Bagia Florida adalah salah satu negara bagian AS yang paling sering hujan setiap tahunnya, tetapi kota Miami menghadapi krisis air.
Pada awal abad ke 20, pemerintah mengeringkan banyak daerah rawa di sekitar Miami, mengakibatkan air laut yang asin dari Samudera Atlantik mengkontaminasi persediaan air tanah atau Akuifer yang menjadi sumber utama air bersih Miami.
Masalah ini sudah diketahui sejak era 1930an, tetapi air asin dari laut terus masuk ke tanah, hal ini dikarenakan oleh kenaikan permukaan laut. Pada akhirnya pemerintah membangun pembatas bawah tanah agar air laut tidak meresap dan mengontaminasi air tanah.